BerandaEkonomi BisnisPerajin Tenun Ikat Tradisional di Mojokerto Produksi Motif Khas Majapahit

Perajin Tenun Ikat Tradisional di Mojokerto Produksi Motif Khas Majapahit

Bangsal– Budhi Iswanto (38) adalah satu-satunya perajin kain tenun ikat tradisional di Kabupaten Mojokerto. Ia memproduksi tenun bermotif khas Bumi Majapahit, yakni Surya Majapahit dan Candi Wringinlawang.

Bisnis tenun ikat tradisional itu dimulai Budhi dan istrinya, Lina Hidayati (37) sejak 2008 silam. Tak hanya motif khas Majapahit, pasangan suami istri pemilik Industri Kecil Menengah (IKM) RH Lestari di Dusun/Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, itu juga menghasilkan beragam motif tenun ikat tradisional.

“Tenun kami mempunyai motif ikonik yang perajin lain belum ada. Keunggulan lainnya tenun kami dingin dan nyaman dipakai, warnanya tidak akan pudar,” kata Budhi kepada kabarmokokerto.id Senin (6/2/2023).

Tenun bikinan bapak dua anak ini memakai benang dasar jenis katun impor dari India seharga Rp 220 ribu per Kg. Sementara untuk benang pakan, Budhi menggunakan katun putih polos seharga Rp 200 ribu per Kg.

“Saya pilih benang impor dari India karena kualitasnya lebih kuat dan mudah menyerap warna daripada benang lokal. Begitu juga benang untuk pakan,” ujarnya.

Budhi menjelaskan proses awal pembuatan tenun ikat tradisional mengunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Tahap pertama pembuatan benang dasar yang diwarnai menggunakan naptol dan indantren. Selanjutnya benang dasar dibentangkan pada mesin ATBM.

Mesin ATBM diisi dengan 84 ban benang dasar selebar 90 cm. Setiap ban terdiri dari 35 putaran benang. Jarak antar ban dibuat sekitar 1 cm. Benang yang dibutuhkan pun sangat panjang, yaitu 3.200 helai. Panjang masing-masing helai benang mencapai 35 meter.

Setelah masuk tahap kedua, Budhi menyiapkan benang pakan. Benang ini digulung ke 55 gulungan yang dipasang di sebuah kerangka kayu. Selanjutnya 55 benang pakan melalui proses ngerek, yakni digulung di sebuah kerangka kayu selebar 94 cm.

Budhi baru menggambar motif setelah benang pakan berada di bingkai. Proses dilanjutkan dengan mengikat motif menggunakan tali rafia agar tidak tembus air.

Kemudian, gulungan benang pakan direndam dengan air deterjen satu hari satu malam agar mudah meresap saat dicelupkan ke pewarna naptol dan indantren.

“Kalau sudah pewarnaan, ikatan dilepas semua, lalu benang melalui proses pindah, yakni benang pakan dipecah per helai, setiap helai digulung. Butuh waktu 3 hari paling cepat untuk memecah benang per helai,” ungkapnya.

Tahap selanjutnya benang dasar dan benang pakan ditenun hingga menjadi lembaran kain oleh 2 karyawatinya. Terakhir, kain dicelupkan ke pewarna untuk mewarnai motif yang sudah dibuat.

“Lamanya proses menenun kalau mulai dari awal menyiapkan bahan sampai dua minggu,” ujar Budhi.

Budhi menjual tenun merek RHL buatannya dengan harga yang sama, yaitu Rp 250 ribu per potong untuk semua motif. Tidak hanya berupa kain, ia juga memproduksi kemeja, jaket, syal, tas dan sarung berbahan tenun.

Kemeja lengan panjang ia banderol Rp 400 ribu, jaket Rp 500 ribu, tas tangan Rp 100 ribu, sarung Rp 350 ribu sedangkan syal Rp 150 ribu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular