BerandaEkonomi & BisnisPerhiasan Perak Buatan Warga Mojokerto Berdaya Saing Global, Ekspornya Sampai Jerman

Perhiasan Perak Buatan Warga Mojokerto Berdaya Saing Global, Ekspornya Sampai Jerman

Gedeg- Perhiasan perak buatan warga Mojokerto memiliki daya saing global. Buktinya, produk perhiasan berbahan baku perak itu rutin diekspor ke Jerman sejak 1993 silam.

Perhiasan tersebut merupakan buatan tangan (handmade) perajin asal Dusun/Desa Batankrajan, Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Fauzi Harianzah (34) bersama karyawannya. Fauzi sudah memiliki brand sendiri yang diberi nama Agung Silver Jewellery.

Dari tangan kreatifnya, pria berusia 34 tahun itu membuat perhiasan dengan motif khas Majaphit, sangat estetik serta menarik pastinya. Antara lain model Makutha Raja, Jayanegara, Dyah Pitaloka, Dewianarawati, serta Sangsangan Raja.

Setiap model tersedia satu set yang terdiri dari kalung, liontin, gelang, cincin, anting, serta bros. Fauzi menceritakan perhiasan bergaya Majapahit itu lahir berkat ide kreatif mahasiswa jurusan desain produk sekitar tahun 2018.

Perhiasan model tersebut berhasil memikat hati Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati.  Saking tertariknya langsung dibeli saat itu. “Harganya per set Rp 2,5-3 juta pakai bahan perak,” kata Fauzi kepada wartawan di rumahnya, Kamis (26/1/2023).

Adapun bahan baku aneka perhiasan itu, yakni perak, suasa (campuran tembaga dan kuningan), dan paladium yang putih berkilau keperakan.  Motif yang dibuat pun beragam. Misalnya kalung terdiri dari 3 model, yakni Italia berupa rantai gepeng, model satelit yang utuh dan tebal, serta model bulatan-bulatan.

Fauzi memproduksi kerajinan perak sesuai permintaan sang konsumen. Saat ini, produk paling laris adalah perhiasan custom. Jumlah dan ukuran produksi juga bergantung permintaan. Hal yang paling diperhatikan oleh bapak anak 1 ini adalah kualitas.

“Keunggulan kami handmade, menerima pesanan custom, kualitas bahan dijaga, serta menyediakan bahan selain perak,” terangnya.

Harganya yang ditawarkan pun bervariasi, tergantung motif dan bahan yang digunakan. cincin berbahan perak Rp 120-400 ribu, gelang Rp 250-600 ribu, kalung Rp 250-300 ribu, serta anting Rp 170-400 ribu.

Sedangkan cincin berbahan suasa Rp 60-200 ribu, gelang Rp 120-200 ribu, kalung Rp 150-250 ribu dan anting Rp 50-100 ribu. Selama ini, produk handmade Agung Silver Jewellery dipasarkan secara online.

Pembelinya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, baik perorangan maupun toko perhiasan.  Bahkan mulai tahun 1993 hingga saat ini masih ekspor ke Jerman.

Menurut Fauzi, produknya diminati lantaran kualitas. Dari sisi pembutannya lebih detail dari negara lain. “Perhiasan kami unggul karena handmade, produknya lebih detail, lebih bagus dibanding negara lain,” ungkapnya.

Namun, pasca tragedi bom Bali dan krisis moneter tahun 1998, pemesanan dari Jerman mengalami penurunan. Kini, ia setiap 2 bulan sekali hanya mengirim 100 item perhiasan handmade.

Perhiasan yang ia ekspor berupa cincin, gelang, mahkota, liontin dan kalung berbahan perak dan suasa lapis perak. “Omzet saat ini ekspor ke Jerman Rp 40-50 juta per 2 bulan,” ungkapnya.

Karyawan Agung Silver Jewellery mengerjakan kerajinan perhiasan handmade.

Ternyata bisnis kerajinan perhiasan perak ini merupakan warisan dari mendiang ayahnya, Purbo yang meninggal sekitar satu tahun lalu. Purbo merintis usaha ini sejak 1989 setelah lama menjadi tukang perhiasan di Bali.

Saat ini, proses produksi dibantu 3 karyawan. Untuk menghasilkan sebuah perhiasan dibutuhkan waktu yang lama karena semuanya dikerjakan secara manual.

Mulai dari peleburan perak yang dicampur tembaga dengan kadar di atas standar internasional. Yaitu 95 persen perak dan 5 persen tembaga. Kemudian, logam aloi dibentuk menjadi bahan setengah jadi berupa pelat atau kawat.

“Sistem kerja di sini setiap tukang mengerjakan dari bahan baku sampai finish,” ujarnya.

Bahan setengah jadi kemudian dibentuk, dirangkai, dan diukir menjadi perhiasan sesuai desain. Barulah kemudian perhiasan dipoles sampai mengilap. Untuk menghasilkan warna emas, perhiasan dilapisi dengan sedikit emas. Bisa juga menggunakan bahan suasa.

“Lamanya tergantung kerumitan, paling sederhana 3-4 jam, agak rumit sehari cuma bikin 1 item,” pungkasnya.

Jika sobat Karmo tertarik untuk membelinya,  bisa datang langsung ke Agung Silver Jewellery. Lokasinya berada di rumah Fauzi sendiri.

Untuk menemukan lokasinya sangat mudah karena sudah terdaftar di Google Maps. Anda juga bisa memesan melalui nomor 0882-2702-7429 atau mengunjungi Instagram @agungsilver89 dan @agungsilverweddingrings.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular