BerandaHukum Kriminal3 Anak Penganiaya Santri yang Tewas Usai Uji Kenaikan Tingkat Silat di...

3 Anak Penganiaya Santri yang Tewas Usai Uji Kenaikan Tingkat Silat di Mojokerto Minta Keringanan Hukuman

KABAR MOJOKERTO – Tiga anak dibawah umur yang menjadi terdakwa dalam kasus penganiayaan yang menyebabkan MUA (17) meninggal dunia saat uji kenaikan tingkat silat minta keringanan hukuman penjara. Beberapa hal disebut menjadi alasan untuk meringankan hukuman para terdakwa.

 

Tiga terdakwa yakni MN (16) warga Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, IS (17) warga Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, dan EW (15) warga Kabupaten Indramayu.

Permintaan keringanan hukuman itu disampaikan oleh Rizkie Erviana Suryasari selaku penasehat hukum para terdakwa kepada hakim pada sidang pleidoi di Ruang Sidang Ramah Anak PN Mojokerto pada Senin (31/7/2023).

 

Rizkie mengatakan, pihaknya tidak sependapat dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang dibacakan saat sidang pembacaan tuntutan di PN Mojokerto. Dia menyebut meninggalnya korban karena perbuatan yang tidak disengaja dan tidak direncanakan dijadikan salah satu alasan untuk pertimbangan majelis hakim.

 

“Ketidaktahuan terdakwa terhadap aturan resmi tentang kenaikan tingkat dalam organisasi pencak silat, terutama mengenai perijinan penyelenggaraan acara dan keamanan peserta, juga menjadi pertimbangan kami meminta keringanan hukuman,” kata Rizkie kepada kabarmojokerto.id di PN Mojokerto usai sidang pleidoi.

Rasa penyesalan para terdakwa serta bersikap sopan di persidangan diharapkan juga bisa meringankan vonis para terdakwa.

 

“Pelaku (terdakwa) masih muda sehingga masih ada harapan untuk memperbaiki dirinya. Juga menyesali perbuatannya serta tidak akan mengulanginya dan perbuatan para terdakwa telah dimaafkan oleh orang tua korban,” ujarnya.

 

“Mohon dengan hormat kepada Ketua Majelis Hakim dan Anggota Majelis Hakim agar berkenan memberikan putusan yang seadil-adilnya dan mohon keringanan hukuman,” imbuh Rizkie.

 

Diberitakan sebelumnya, Jaksa penuntut umum (JPU) Fachri Dohan Mulyana menyebut tiga terdakwa terbukti melakukan tindak pidana kekerasan yang mengakibatkan santri berinisial MUA (17) di Ponpes Ismul Haq, Mojokerto meninggal dunia sebagaimana dakwaan tunggal Pasal 80 ayat 3 juncto Pasal 76C UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

 

Fachri menuntut mereka dihukum pidana penjara selama 6 tahun 8 bulan. Ia mempertimbangankan perbuatan ketiganya mengakibatkan duka yang mendalam bagi keluarga korban.

 

Seperti diketahui, MUA yang berasal dari Karangpilang, Surabaya merupakan santri YPAY Al-Ikhlas, Kelurahan Miji, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Ia diduga dianiaya santri seniornya.

 

Peristiwa terjadi pada Senin, 26 Juni 2023 malam sekitar pukul 21.30 WIB saat korban mengikuti ujian silat di Ponpes Ismul Haq, Dusun Kowang, Desa Gebangsari, Jatirejo, Mojokerto.

 

Korban diduga dipukuli dua orang santri senior saat ujian silat tersebut. Perut korban diduga dipukul dengan tongkat kayu pramuka hingga tongkat tersebut patah. Selain itu, MUA juga diminta duel dengan temannya. Setelah duel itulah MUA tumbang yang berujung tewasnya nyawa sang santri junior.

 

Usai tumbangnya korban saat ujian silat tersebut, korban baru dibawa ke Puskesmas Dinoyo, Jatirejo pada Selasa, 27 Juli 2023 sekitar pukul 07.00 WIB. Sayang, pada saat dibawa ke Puskesmas itu petugas medis menyatakan bahwa nyawa MUA sudah tidak tertolong.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular