BerandaHukum KriminalSuami yang Sayat Leher Pedagang Teh Poci di Mojokerto Langsung Ditahan

Suami yang Sayat Leher Pedagang Teh Poci di Mojokerto Langsung Ditahan

Kabar Mojokerto- Slamet ditahan di Rutan Polsek Jetis setelah menyayat leher istrinya, Patniwati (39), pedagang teh poci di Pasar Kupang, Jetis, Kabupaten Mojokerto. Warga Desa Kupang itu dijerat dengan pasal 351 KUHP atau UU Penghapusan KDRT.

Kapolsek Jetis Kompol Sumaryanto mengatakan, Slamet berhasil ditangkap anggotanya di lokasi penganiayaan. Pelaku menyayat leher istrinya, Patniwati menggunakan pisau cutter di sebuah warung kosong di Jalan Raya Dusun Wates, Desa Kupang, Jetis, Kabupaten Mojokerto sekitar pukul 07.30 WIB.

“Pelaku kami tahan di Rutan Polsek Jetis karena barang bukti dan saksi sudah jelas,” terangnya kepada kabarmojokerto.id, Jumat (11/8/2023).

Untuk sementara, lanjut Sumaryanto, Slamet dijerat dengan pasal 351 ayat (2) KUHP tentang Penganiayaan. Warga Desa Kupang, Jetis itu terancam pidana penjara selama 5 tahun karena korban mengalami luka berat.

Pasal 351 ayat (1) berbunyi ‘Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500’. Sedangkan ayat (2) mengatur ‘Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun’.

Tak menutup kemungkinan pelaku akan dijerat dengan pasal 44 UU RI nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT). Namun, Sumaryanto akan lebih dulu memastikan status pernikahan Slamet dengan Patniwati.

“Kami belum dapat surat inkrah cerai mereka. Artinya, mereka suami istri karena masih dalam proses cerai. Berarti nanti kami larikan kepada KDRT. Kami lihat perkembangannya,” jelasnya.

Pasal 44 ayat (1) UU PKDRT mengatur ‘Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 15 juta’.

Sedangkan ayat (2) mengatur ‘Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp 30 juta’.

Seperti diketahui, perbuatan Slamet menyebabkan Patniwati menderita luka sayat di leher depan dan bawah mulut sepanjang 10 cm. Sampai sore ini korban masih dirawat di RSUD RA Basoeni, Gedeg, Mojokerto.

Sumaryanto menambahkan, korban baru akan diperiksa jika sudah sembuh. Jika nantinya Patniwati enggan melanjutkan kasus ini, pihaknya akan menempuh restorative justice (RJ).

“Kami tak bisa serta merta menyelesaikan secara damai karena sudah kami terbitkan laporan polisi. Kami gelar perkara untuk RJ jika korban tidak menuntut pelaku,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular