BerandaHukum KriminalTersangka Pembunuhan Siswi SMP di Mojokerto Dituntut Hukuman Maksimal

Tersangka Pembunuhan Siswi SMP di Mojokerto Dituntut Hukuman Maksimal

KABAR MOJOKERTO – Seorang pelajar berinisial AAW (15) dituntut 7 tahun 6 bulan penjara. Lantaran, pelajar asal Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto itu tega menghabisi nyawa AE (15) siswi SMPN 1 Kemlagi, yang notabene merupakan teman sekelasnya.

Tuntutan itu dibacakan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto Ismiranda Dwi Putri. Sidang tersebut digelar di ruang Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto dan dilakukan secara tertutup.

Dalam sidang yang digelar pukul 13.00 WIB, terdakwa AAW juga tidak dihadirkan. AAW mengikuti jalannya persidangan melalui online dari Polsek Magersari dengan didampingi orang tuanya. Pasca ditangkap, Siswa kelas 3 SMPN 1 Kemlagi itu memang dilakukan penahanan oleh polisi di Mapolsek.

Kepada kabarmojokerto.id, JPU Ismiranda mengungkapkan, dalam materi tuntutannya, terdakwa AAW disangkakan melanggar pasal 80 ayat (3) junto pasal 76C Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. AAW dinilai telah melakukan penganiayaan terhadap AE yang masih di bawah umur hingga tewas.

Menurut Ismiranda, dalam pasal 80 ayat (3) ancaman hukuman bagi terdakwa yakni 15 tahun penjara. Hanya saja, lantaran AAW merupakan anak di bawah umur, sehingga dalam materi tuntutannya, JPU tetap berpijak pada Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

“Karena ini pelaku anak, ancaman (hukuman) maksimalnya setengah dari orang dewasa. Jadi, anak (AB) kami tuntut maksimal, yaitu 7 tahun 6 bulan penjara,” kata Ismiranda saat ditemui di Kantor Kejari Kota Mojokerto, Senin (10/7/2023).

Ismiranda menuturkan, ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan JPU dalam menuntut AAW dengan hukuman maksimal. Di antaranya, faktor keluarga korban yang sangat terpukul karena kasus pembunuhan AE. Disisi lain, keluarga korban juga belum memaafkan terdakwa.

Menurut Ismiranda, dalam persidangan terkuak sejumlah fakta dimana JPU menemukan adanya unsur perencanaan dalam pembunuhan AE yang dilakukan AAW ini. Salah satunya, terdakwa AAW sudah merencanakan secara matang aksi pembunuhan AE.

“Terdakwa sempat berpikir membunuh korban pakai apa, senjata tajam atau tangan kosong. Akhirnya dia memutuskan dengan matang eksekusi pakai tangan kosong saja. Dia mencekik korban selama hampir 30 menit sampai korban tidak bernyawa,” kata Ismiranda.

Meski unsur perencanaan terpenuhi, dalam kasus pembunuhan siswi kelas 3 SMPN 1 Kemlagi tersebut, JPU tidak bisa menerapkan pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Sebab, AAW merupakan pelaku anak sehingga pasal dalam KUHP dikecualikan.

“Disisi lain, dia (AAW) sudah jujur dalam proses pemeriksaan, selain itu terdakwa juga sudah menyesali perbuatannya serta bersikap sopan dan kooperatif,” ungkap Ismiranda.

Selain hukuman pidana, lanjut Ismiranda, JPU juga menuntut AAW diberikan hukuman tambahan yakni kewajiban menjalani pelatihan kerja. Pelatihan kerja itu sebagai pengganti denda Rp 1 miliar yang tidak mungkin sanggup dibayar oleh terdakwa.

“Karena ini pelaku anak, hukuman denda Rp 1 miliar diganti dengan pelatihan kerja selama 6 bulan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas 1 Blitar,” ucap jaksa Ismiranda.

Sidang pembunuhan siswi SMPN 1 Kemlagi akan dilanjutkan pada Selasa (11/7/2023) besok. Dalam sidang tersebut, majelis hakim hakim tunggal Made Cintia Buana akan mendengarka pledoi atau pembelaan dari terdakwa AAW maupun kuasa hukum terdakwa.

“Besok masih (pembacaan) pembelaan dari penasihat hukum anak (AAW). Biasanya setelah pledoi langsung vonis atau kalau enggak jeda satu hari,” tukas Ismiranda

Diberitakan sebelumnya, AE (15) tewas dengan cara yang mengenaskan. Siswi SMPN 1 Kemlagi Mojokerto dibunuh oleh AAW yang tak lain merupakan teman satu kelasnya. Usai dibunuh, pelaku AAW (15) kemudian membawa jasad AE ke satu pelaku lain berinisial MA. Keduanya kemudian berencana membuang jasad AE agar aksi pembunuhan itu tidak terungkap.

Jasad AE rencananya akan dibuang ke sungai dengan cara dibungkus menggunakan karung berwarna putih. Namun saat AAW pergi membeli tali, MA yang masih gelap mata kemudian memperkosa jasad AE. Biadabnya, pemerkosaan itu dilakukan hingga dua kali. Usai memperkosa jasad AE, kedua pelaku kemudian membuang mayat AE.

Kasus inipun terungkap setelah polisi selama hampir sebulan melakukan penyelidikan. Pasca polisi menerima laporan dari kedua orang tua AE pada 17 Mei 2023 lalu. AE dinyakan hilang setelah pergi dari rumah pada 15 Mei 2023 sore. Ketika itu, AE berpamitan pergi ke pasar malam.

Dalam pesan singkat yang dikirim ke ibunya, AE mengaku pergi dengan D. Namun hingga malam hari, AE tak kunjung pulang. Higga akhirnya polisi meringkus kedua pelaku AAW dan MA. Dari pengakuan kedua pelaku, kemudian polisi berhasil menemukan jasad AE yang dibuang di parit bawah jembatan rel kereta api Desa Modongan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, motif pembunuhan itu dilatar belakangi rasa dendam AAW ke AE. AAW dendam lantaran ditagih uang iuran kelas yang nunggak 2 bulan, sebesar Rp 40.000. Selain itu, MA juga membutuhkan uang untuk memperbaiki ponselnya yang rusak. Sehingga kedua pelaku merencanakan aksi untuk membegal dan membunuh AE.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular