BerandaSejarahCapaian Skrinning PTM Kabupaten Mojokerto Masuk 6 Besar se-Jawa Timur

Capaian Skrinning PTM Kabupaten Mojokerto Masuk 6 Besar se-Jawa Timur

Mojokerto – Capaian Skrinning Penyakit Tidak Menular (PTM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto berhasil 6 besar se-Jawa Timur.

Dari data Aplikasi Sehat Indonesia-Ku (ASIK) milik Kementrian Kesehatan, per Januari – Mei 2023 capaian skrinning PTM Kabupaten  Mojokerto yakni 162.745 orang. Rinciannya PTM yang diderita, 21 orang diabetes melitus, 3.756 orang hipertensi, 7.902 obesitas, 4 orang stroke, 95 orang katarak, 5 orang jantung.

Data aplikasi ASIK capaian skrinning PTM Provinsi Jatim.


Capaian tersebut mengantarkan Dinkes Kanupaten Mojokerto berada diurutan ke 6 se-Jatim. Diposisi atasnya terdapat Banyuwangi, Surabaya, Kabupaten Malang, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Gresik.

Kasubkoordinator PTM Dinkes Kabupaten Mojokerto Farida Wahyu Utami mengatakan, capain tersebut tak lepas dari kerja keras tim lewat program-program pecegahan dan pengendalian PTM yang digulirkan selama ini.

Dinkes Kabupaten Mojokerto menggencarkan pemeriksaan deteksi dini PTM di berbagai sektor dengan menyasar masyarakat usia produktif. Di antaranya, instansi perkantoran, sekolah, dan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Desa.

“SPM (Standar Pelayanan Minimal) bidang kesehatan ada 12 indikator, yang salah satunya adalah skrining pada usia produktif.

Pemeriksaan deteksi dini PTM ini berupa pemeriksaan tekanan darah, berat badan, lingkar perut, dan sampai pemeriksaan lab gula darah pada masyarakat usia produktif yakni usia 15 hingga 59 tahun.

Farida menjelaskan, tahun 2023 ini target capaian skrinning PTM Dinkes Kabupaten Mojokerto sekitar 700 ribu jiwa. Ia optimis diakhir tahun mampu mencapai target tersebut.

“Kendala kita memang masih banyak ditemukan masyarakat yang tidak mau skrinning. Mereka merasa dirinya sehat dan baik-baik saja. Selain itu, masyarakat tidak akan mau diperiksa sebelum sakit,” jelasnya.


Selain deteksi dini, Dinas Kesehatan juga berupaya memberikan edukasi serta tindak lanjut berupa rujukan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) jika ditemukan indikasi faktor risiko. Langkah ini melibatkan 27 Puskesmas dan seluruh kader kesehatan di setiap desa.

Masih kata Farida, saat ini pihaknya melakukan transformasi kesehatan. Salah satu pilarnya yaitu meningkatkan layanan kesehatan primer dengan menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif. “Jadi bukan kuratif. Lebih fokus ke promotif dan preventif,” tandasnya.

Populasi yang sudah berisiko akan dilakukan pencegahan primer melalui deteksi dini, baik faktor risikonya maupun penyakitnya. Sehingga diharapkan penyakit dapat segara ditanggulangi.

“Para penyandang penyakit diupayakan agar bisa diobati supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. Pasien PTM juga kita beri konseling kesehatan,” pungkas Farida.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular