BerandaSejarahHomoseksual Berisiko Tinggi Terjangkit HIV, Kok Bisa ?

Homoseksual Berisiko Tinggi Terjangkit HIV, Kok Bisa ?

Mojokerto – Penyakit HIV tidak hanya berisiko terhadap hubungan heterogen (seks lawan jenis). Ternyata, homoseksual juga berisiko terjangkit HIV, bahkan tingkat kerawanannya jauh lebih tinggi.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan tingginya risiko HIV pada kaum homoseksual. Alasan-alasan tersebut sangat beragam dan rumit, mulai dari faktor-faktor biologis, gaya hidup, dan sosial.

Dokter Spesialis Kulit RSUD Prof dr Soekandar Mojokerto Asri Rahmawati.


Dokter Spesialis Kulit RSUD Prof dr Soekandar Mojokerto, Asri Rahmawati menceritakan, dirinya pernah mendapati pemuda berusia 20 tahun datang ke Poli Kulit. Pemuda itu datang dengan keluhan kutil kelamin di daerah anus.

“Setelah digali lebih lanjut ternyata laki laki ini berhubungan dengan sesama laki laki sejak beberapa tahun terakhir. Dan setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium maka dinyatakan positif HIV,” kata Asri dalam keterangan tertulis yang diterima Kabarmojokerto.id.

Menurut Asri, kasus serupa akhir-akhir ini kerap didapati di Poli Kulit dan Kelamin RSUD Prof dr Soekandar Mojosari Mojokerto. Mirisnya, rata-rata pasien masih diusia produktif. “Rentan usia pasien 17-30 tahun,” ujarnya.

Dikatakannya, seks anal menjadi pilihan yang umum bagi pasangan gay. Ia mengungkapkan, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa tingkat risiko penularan HIV lewat seks anal lebih besar 18 persen dari penetrasi vagina. Hal ini terjadi karena jaringan pada anus dan vagina sangat berbeda.

“Vagina memiliki banyak lapisan yang bisa menahan infeksi virus, sementara anus hanya memiliki satu lapisan tipis saja,” ungkap pemilik Klinik Kecantikan Kencana Asri Medika Mojosari itu.

Tak hanya  itu, lanjut Asri, anus juga tidak memproduksi lubrikan alami seperti vagina, sehingga kemungkinan terjadinya luka atau lecet. Ketika penetrasi anal dilakukan lebih cepat dapat menyebab luka. Luka inilah yang bisa menyebarkan infeksi HIV.


Masih kata Asri, Infeksi HIV juga bisa terjadi jika ada kontak dengan cairan rektal pada anus. Sebab, cairan rektal sangat kaya akan sel imun sehingga virus HIV mudah melakukan replikasi atau penggandaan diri.

Cairan rektal pun menjadi sarang bagi HIV. Maka, jika pasangan yang melakukan penetrasi telah positif mengidap HIV, virus ini akan lebih cepat berpindah pada pasangannya lewat cairan rektal pada anus.

“Berbeda dengan vagina, anus tidak memiliki sistem pembersih alami sehingga pencegahan infeksi virus lebih sulit dilakukan oleh tubuh,” tandas Asri.

Meski bisa menyerang siapapun, bukan berarti HIV/AIDS tak bisa dicegah. Oleh karena itu, ada beberapa tindakan yang harus di lakukan agar terhindar dari penyakit infeksi ini. Antara lain, mengurangi seks berisiko dan membatasi jumlah pasangan seks.

“Seks anal tanpa proteksi merupakan aktifitas seksual dengan risiko tertinggi penularan HIV.

Selain itu, batasi jumlah pasangan seks. Semakin banyak pasangan yang dimiliki, maka akan semakin tinggi tingkat penularan HIV,” tutup Asri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular