BerandaSejarahKisah Penyelamatan Raja Airlangga dari Invasi Raja Wurawari yang Tertuang di...

Kisah Penyelamatan Raja Airlangga dari Invasi Raja Wurawari yang Tertuang di Prasasti Pucangan

Kabarmojokerto.idPrasasti Pucangan menyimpan berbagai informasi tentang perjalanan pewaris tahta Medang Kamulan dari Mataram Kuno, Raja Airlangga. Salah satunya adalah kisah penyelamatan Raja Airlangga dari invasi Raja Wurawari.

Menurut Vernika Hapri Witasari dalam skrripsinya berjudul ‘Prasasti Pucangan Sansekerta 959 Saka: Suatu Kajian Ulang,  cerita penyelamatan diri Raja Airlangga dari serbuan pasukan Raja Wurawari terjadi pada tahun 1016 masehi.  Cuplikan cerita tersebut ada pada prasasti Pucangan Sansekerta pada bait ke-24. Sedangkan, dalam prasasti Pucangan Jawa Kuno peristiwa ini disebut dengan Pralaya.

Mahasiswa program studi Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) tahun 2009 itu menyebut, pasukan Wurawari menyerang putra Raja Udayana dengan ratu Mahendradatta saat masih berusia 16 tahun.

Ketika itu, Airlangga dengan putri Raja Medang Kamulan, Dharmawangsa Teguh sedang menggelar pesta pernikah. Malam yang semula meriah dan semarak tiba-tiba menjadi mencekam.

“Peristiwa penyerangan terjadi saat pesta pernikahan berlangsung, tiba-tiba keraton dibakar hingga hancur tak bersisa,” katanya.

Kerajaan Mataram Kuno menemui titik nadirnya usai mendapatkan serangan dari Wurawari dari Lwaram, Blora. Sang Raja Dharmawangsa Teguh tewas seketika usai mendapat serangan dari sekutu Kerajaan Sriwijaya ini. Hal ini pula yang melatarbelakangi serangan balasan dari Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.

Airlangga yang berhasil melarikan diri dari serangan Lwaram, kemudian menjalani hidup sebagai pelarian dari hutan ke hutan. Ia ditemani oleh Mpu Narottama hidup sebagai pelarian sebelum akhirnya mendirikan kerajaan baru di Wawatan Mas.

“Selama di hutan mereka hidup dengan para rsi, berpakaian kulit kayu dan memakan apapun yang dimakan oleh penduduk tersebut,” jelas Vernika.

Menurut Vernika, Raja Wurawari berkuasa di daerah Banyumas, Jateng. Ia menyerbu dari Lwaram yang bisa jadi berada di sebelah selatan Cepu, Blora, Jateng atau di Ngloram, Kudus. Pusat kerajaan Dharmmawangsa Teguh kala itu diperkirakan berada di Madiun. Sedangkan Wwatan diperkirakan terletak di Maospati, Magetan.

Berdasarkan data dari Prasasti Pucangan, tambah Vernika, Airlangga akhirnya dikukuhkan menjadi raja tahun 941 saka atau 1019 masehi. Ia mendapatkan gelar Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmmawangsa Airlangga Anantawikrama Uttunggadewa. “Pengukuhan Airlangga sebagai raja direstui oleh rsi, para pemuka agama Buddha, Siwa dan Brahmana. Prasasti Pucangan Sansekerta dan Jawa Kuno menggambarkan peristiwa tersebut,” tegasnya.

Penelitian karya Yori Akbar Setiyawan dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada berjudul Latar Belakang Penetapan Sima Bagi Pertapaan pada Masa Pemerintahan Airlangga 1019-1043 Masehi, juga mengulas kisah pelarian Airlangga.

“Berdasarkan Prasasti Pucangan Jawa Kuno diceritakan bahwa saat peristiwa mahapralaya, Airlangga dan Narottama melarikan diri ke hutan Wanagiri dan hidup sebagai pertapa untuk mengumpulkan kekuatan,” cetusnya.

Selama bertapa di hutan, lanjut Yori Airlangga memuja para dewa dan dewi demi melindungi kerajaannya, menggantikan kedudukan leluhurnya, memperoleh kebahagiaan, serta memperbaiki semua bangunan suci dan menumpas kejahahatan di dunia. Selain menyiapkan fisik dan rohaninya, ia juga menggalang para pengikut Dharmawangsa Teguh untuk menyerang musuhnya.

“Muncul suatu dugaan bahwa kaum rsi mendukung langkah-langkah Airlangga saat fase konsolidasi sebagai raja untuk menyatukan kerajaannya. Kaum rsi senantiasa membantu Airlangga pada masa pengasingannya,” terangnya.

Sedangkan di jurnal berjudul Pengaruh Airlangga terhadap Kemajuan Kerajaan Medang Kamulan karya Muhammad Fikri, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Gorontalo disebutkan pelarian Airlangga bersama Narottama ke Gunung Wonogiri, Jateng.

“Airlangga berumur 16 tahun mengevakuasi bersama Narottama ke Gunung Wonogiri sebagai pertapa dengan melepaskan pakaian mewah. Tahun 1016-1019 masehi dia ditempa baik jasmani dan rohani di Wonogiri,” ujarnya.

Sementara, Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Wicaksono Dwi Nugroho berpendapat ketika diinvasi Raja Wurawari, ibu kota Medang Kamulan berada di wilayah Maospati, Magetan. Peristiwa itu terjadi ketika Airlangga menikah dengan putri Dharmawangsa Teguh, Galuh Sekar. Ia terpaksa kabur ke hutan untuk menyelamatkan diri ditemani Narottama.

“Dilihat dari Prasasti Patakan dan Pamwatan bahwa Airlangga ketika kerajaannya diserang melarikan diri ke Pataan (Lamongan). Kenapa kok larinya ke sana? Tentunya kami duga kuat terkait dukungan spiritual. Karena wilayah Jombang utara dan Lamongan selatan basis rsi dan pertapa, baik aliran Hindu maupun Budha,” jelasnya.

Ia menjelaskan, tempat persembunyian Airlangga di Pataan juga didukung sedikit data tentang Mpu Bharada. Guru spiritual Airlangga itu konon bertapa di wilayah yang sama.

“Apakah di sana menjadi tempat bertapa Mpu Bharada? Itu bisa jadi. Karena di Lamongan selatan ada bukit yang dinamakan lemah citra atau Bukit Citro (di Desa Wonokoyo, Kecamatan Sambeng). Dalam Negarakertagama disebutkan tempat pertapaan Mpu Bharada di Citra Leka, hanya mengaitkan namanya saja,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular