BerandaSejarahKolam Bekucuk Mojokerto Tempat Keramat Ini Keluarkan Api Abadi Menyala Tiada Henti...

Kolam Bekucuk Mojokerto Tempat Keramat Ini Keluarkan Api Abadi Menyala Tiada Henti Tahun 1993-1994

Sooko – Kolam Bekucuk yang berada di Dusun Bekucuk Desa Tempuran Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto, meninggalkan kisah nan unik dengan api abadinya.

Kolam keramat tersebut tidak hanya keramat, menjadi tempat yang disakralkan ataupun menjadi tambah yodiun masa kolial Belanda, tahun 1989 saat kembali digali masyarakat setempat memunculkan keanehan alam dengan munculnya api.

Setelah tambah ditutup karena yodium dinyatakan habis pada masa penjajahan Belanda lalu terbengkalai, masyarakat kembali menggalinya di areal temuan bangunan kuno, penggalian itu juga memunculkan api abadi.

Pemerhati Sejarah Mojokerto Ayuhanafiq menerangkan Kolam Bekucuk menjadi tambang yodium pada masa kolonial Belanda tahun 1920-an. Tak tanggung-tanggung Belanda mengeruknya hingga dinyatakan habis.

Perusahaan Combinatie van Kininefabriek mendirikan pabrik pengolahan yodium atau Iodiumfabriek di Desa Watudakon Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang tahun 1926.

Usai kandungan yodium habis, penambangan pun dihentikan sehingga kolam itu kembali dikeramatkan masyarakat sekitar. Setelah lama dibiarkan begitu saja, masyarakat menggali bagian-bagian kolam dan menemukan api yang muncul dari dalam kolam maupun tanah sekitar bekas tambang yodium itu.

“Dimungkinkan api itu berasal dari gas metan yang naik dari dalam perut bumi. Munculnya api yang tidak pernah padam itu menjadikan Bekucuk dimasukkan sebagai salah satu lokasi api abadi,” terangnya kepada Kabarmojokerto.id, Kamis (11/5/2023).

Kolam Bekucuk Mojokerto.

Orang yang dituakan di Dusun Bekucuk, Suroso (72) menjelaskan, sekitar tahun 1989, Kolam Bekucuk rata dengan tanah. Atau sebelumnya tidak mendapat perhatian, masyarakat hanya tau bahwa lokasi tersebut keramat.

Suroso menceritakan, saat pertama ditemukan adanya api abadi, kolam ini layaknya kubangan kecil yang mengeluarkan air disertai gelembung-gelembung gas. Fenomena itu membuatnya penasaran dan ingin mencari tahu penyebabnya.

“Kalau disulut, apinya bisa menyembur besar, sampai 10 meter,” ungkapnya.

Sehingga tahun itu, bersama Kepala Desa Tempuran Yanto, serta Tusan dan Yadi, ia menggali kolam tersebut. Barulah saat itu, masyarakat menemukan bangunan kolam berbahan bata merah kuno berbenah bujur sangkar sekitar 3,5×3,5 meter persegi.

“Ternyata ada bangunan kuno dari bata merah Majapahitan. Lama-lama penggalian dibantu warga, masih secara manual pakai cangkul, baunya menyengat seperti elpiji,” cetusnya.

Kedalaman struktur kuno itu mencapai 10 meter. Lantainya berupa tanah. Kolam yang nampak saat ini berupa susunan batu lantaran sudah ditambahi bangunan baru oleh warga. Tujuannya agar permukaan kolam rata dengan tanah.

Meski penuh dengan air, Kolam Bekucuk yang sudah digali ketika itu terus mengeluarkan gas. Selain itu, kolam juga masih menyemburkan api jika disulut. Gas yang keluar semakin besar dan meluas di Dusun Bekucuk beberapa tahun kemudian.

“Hampir separuh Dusun Bekucuk tanahnya mengeluarkan gas, bisa menyala tahun 1993-1994,” jelasnya.

Suwono adalah warga Dusun Bekucuk yang rumahnya paling dekat dengan kolam keramat itu. Menurutnya, api sudah muncul di Kolam Bekucuk dan sekitarnya jauh sebelum digali warga. Ketika usianya 12 tahun, pria kelahiran 1966 ini kerap membakar jagung di tempat itu.

“Membesarnya api tahun 1992 akhir setelah digali keluarga saya. Apinya menyembur tinggi 6-8 meter. Kemudian dibangun kolamnya swadaya warga sini,” cetusnya.

Sementara itu, Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim, M Ichwan belum mengetahui ihwal struktur kolam kuno di Kolam Bekucuk. “Saya pribadi belum tahu tentang situs tersebut,” tandasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular