BerandaSejarahMojokerto Sempat Berjaya dengan Industri Gula, Banyak Bangunan Peninggalan Kolonialisme Belanda

Mojokerto Sempat Berjaya dengan Industri Gula, Banyak Bangunan Peninggalan Kolonialisme Belanda

Mojokerto – Besarnya industri tebu di Kabupaten Mojokerto di era kolonialisme Belanda, kini masih meninggalkan banyak bangunan bersejarah. Contohnya keberadaan Dam Candi Limo di Kecamatan Jatirejo.

Industrialisasi gula di Kabupaten Mojokerto, menyisakan sejarah kelam karena Belanda menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) tahun 1830-1870 sampai mereka terbuka dengan investor.

Penulis Sejarah Mojokerto Ayuhanafiq mengatakan terdapat 14 pabrik gula (PG) di Mojokerto sejak Belanda menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) tahun 1830-1870, yang sebagian besar atau terdapat 7 PG atau suiker fabriek (SF) milik Gerard Joachimus (GJ) Eschauzier taipan asal Belanda.

NV Eschauzier Concern merupakan perusahaan asal Den Haag Belanda, di Mojokerto mengelola 7 PG sekaligus. Yaitu SF Sentanen Lor yang dibangun tahun 1834, SF Bangsal tahun 1838, SF Gempolkrep tahun 1845, SF Brangkal tahun 1866, SF Ketanen sebelum tahun 1880an, SF Dinoyo tahun 1882, serta SF Pohjejer tahun 1891.

Keberadaan PG lainnya di Kabupaten Mojokerto merupakan milik pengusaha lainnya, yaitu SF Perning di Kecamatan Jetis SF Jabung di Jatirejo milik pengusaha asal Jerman bernama Von Bultzingtowen.

Perkembangannya kemudian PG Jabung tutup tahun 1899 karena rasio tebu yang diolah tak sebanding dengan gula yang dihasilkan.

Dam bersimbil Dewa Kala.

PG lainnya adalah SF Koning William II di Mojosari yang dibangun Van Dalden, SF Tangoenan di Kecamatan Puri, SF Sedati di Kecamatan Ngoro, SF Ketanen di Kutorejo, serta SF Sumengko di Kecamatan Jatirejo yang dibangun pengusaha Tiongkok dibawah keluarga Tan.

SF Sumengko dalam sejarahnya merupakan PG yang disebut terakhir dijual kepada kongsi dagang Jepang ketika krisis ekonomi tahun 1920-an.

“Kemungkinan pada awalnya pengusaha China lebih dulu membuat beberapa pabrik di Mojokerto yang kemudian diakuisisi oleh pengusaha Eropa,” terang Ayuhanafiq dalam artikelnya.

Menurut Ayuhanafiq, banyak faktor yang membuat investor China maupun Eropa membangun industri gula di Mojokerto, alasan utama karena dekat dengan pelabuhan di Surabaya.

Alasan lainnya yaitu kondisi wilayahnya juga mempunyai beberapa sungai besar yang mampu memenuhi kebutuhan industri gula.

Sungai besar sangat berguna bagi PG di masa itu, PG membutuhkan suplai air yang besar untuk mengisi ketel uap. Sehingga mesin pabrik bisa terus bergerak dengan tenaga uap. Limbah produksi gula pasir juga bisa dibuang begitu saja ke sungai. Tidak hanya itu, sungai juga untuk mengairi perkebunan tebu masing-masing PG.

Seperti yang terjadi di PG Dinoyo. NV Eschauzier Concern merevitalisasi Dam Candi Limo di Dusun Jetis, Desa Sumberagung, Jatirejo tahun 1910. Pintu air bersimbol Dewa Kala itu mengalirkan sebagian Sungai Landean untuk mengairi perkebunan tebu di sekitar pabrik gula tersebut.

Setahun kemudian, NV Eschauzier Concern juga merevitalisasi Dam Pehngaron di Dusun Pengaron, Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo untuk mengatur air Sungai Pikatan. Kedua pintu air tersebut menjadi sarana irigasi sekitar 568 hektare kebun tebu yang dikelola PG Dinoyo pada masa itu. Pabrik ini mampu menghasilkan sekitar 57.939 ton gula.

Ayuhanafiq menjelaskan, kala itu masing-masing PG menyewa sawah pribumi secara paksa. Luas sawah yang mereka sewa ditentukan pemerintah penjajah Belanda sesuai kapasitas produksi. Para investor memanfaatkan birokrat tingkat desa sebagai makelar dengan imbalan 2,5 gulden per bau atau per 7.140 meter persegi.

Imbalan untuk kepala desa dipotongkan dari biaya sewa kepada pemilik sawah yang nilainya 30-35 gulden per bau untuk satu kali musim tanam 1,5 tahun.

Dam Candi Limo masih berdiri kokoh, peninggalan Kerajaan Majapahit dan direvitalisasi Belenda pada tahun 1910.

Manajemen pabrik juga memberi komisi secara langsung kepada bupati. Tak ayal para kepala desa menggunakan segala cara agar warganya merelakan sawah mereka disewa pabrik gula.

Para birokrat zaman itu, juga menerima komisi ketika masa panen tebu. Sehingga kebun tebu dijaga para perangkat desa. Sedangkan pribumi dipaksa bekerja dengan upah rendah. Ditambah lagi kepala desa memotong pajak yang tinggi dari upah mereka.

“Setelah dipotong komisi buat lurah, uang sewa itu juga diambil langsung buat bayar pajak tanah dan pajak kepala. Sisanya untuk makan selama tanahnya dalam masa sewa. Tentu saja tidak mencukupi,” terangnya.

Menurut Ayuhanafiq, dampak buruk penyewasaan lagan ini adalah produksi pangan anjlok seiring banyaknya sawah yang dikuasai PG. Sehingga banyak anak menderita busung lapar dan mudah terserang penyakit yang dikenal sebagai kolera atau juga disebut Pagebluk merupakan serangan makhluk halus yang mematikan.

Industri gula mulai surut ketika krisis ekonomi menerjang tahun 1930. Sebagian PG di Mojokerto dialihkan untuk industri lain.

Faktor lainnya adalah karena penjajahan Jepang dan penjarahan pada masa kemerdekaan Republik Indonesia. Sampai akhirnya hanya PG Gempolkrep yang bertahan hingga kini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kabar Popular